Happy 70th birthday, Papa!

Pemuda ganteng ini adalah ayah saya sewaktu berusia 27 tahun. Tanggal 19 Agustus ini beliau genap berusia 70 tahun. Tubuhnya masih tegap walaupun kadang kelihatan agak susah berjalan kalau asam uratnya kambuh. Selain itu, tidak ada kendala kesehatan yang berarti.

Saya selalu emosional ketika membicarakan sosok Papa. Sebagai anak ketiga dan anak perempuan pertama dari 4 bersaudara, tidak bisa dipungkiri, Papa selalu mengabulkan permintaan saya, apapun itu.  Tinggal bilang dan Papa pasti membelikannya. Iya, semudah itu 🙂 Papa juga selalu menjaga saya dengan caranya sendiri. Dulu, setiap malam, Papa selalu menunggu saya di sofa, semalam apapun saya pulang ke rumah. Setelah saya buka pintu dan masuk rumah, Papa kemudian mengeluarkan pertanyaan lengkap bak wartawan dengan format 5W1H.  Setelah itu,   barulah ia  masuk ke kamarnya dan beristirahat.

Namun dibalik sifatnya yang keras kepala, cuek , dan kaku, Papa adalah orang yang baik, humoris, sangat perhatian, dan berhati lembut. Saya ingat persis bagaimana Papa memeluk saya dan menangis tersedu-sedu di stasiun kereta ketika mengantar saya untuk pindah dan bekerja di Bali beberapa tahun yang lalu. Dari bahasa tubuhnya, saya tau Papa keberatan ketika saya memutuskan untuk jauh darinya. Sebuah perasaan wajar yang dialami orangtua ketika harus jauh dari anak perempuannya.

Isakan tangis yang sama, muncul kembali ketika saya meminta ijinnya untuk menikah. Saya tidak bisa berkata banyak padanya, namun air mata terus berurai. Saya hanya bisa mengucapkan maaf karena sampai sebesar ini saya masih saja merepotkannya. Setelah nangis tersedu-sedu lama sekali, akhirnya saya hanya bisa bilang kalau saya sangat menyayanginya. Kemudian kami berpelukan erat cukup lama, dan sesenggukan bersama.

Saya juga masih ingat persis bagaimana mata Papa sudah berkaca-kaca saat masuk ruang perawatan di rumah sakit, sesaat setelah saya melahirkan Kilau. Ketika memeluk saya, tangis itupun pecah. Papa bilang kalo Papa bahagia sekali punya cucu dari saya. Setelah itu Papa menciumi saya dan mendoakan saya sambil menghapus air matanya.

Masih banyak momen menangis bersama lainnya di setiap masa-masa genting sekaligus penting kami. Namun seperti halnya kehidupan, selalu ada dua sisi yang terjadi. Tak hanya momen bahagia, namun momen tidak menyenangkan pun pernah dirasakan. Sejak kecil, Papa membebaskan saya dan kakak-kakak saya untuk mengikuti segala kegiatan apapun di sekolah. Hanya ada satu permintaan Papa :   ketika ada acara yang berhubungan dengan keluarga, mau tidak mau, suka tidak suka, semuanya harus hadir. Titik. Semacam harga mati yang tidak bisa ditawar.

Sebagai anak yang sudah beranjak remaja, tentu keinginan untuk bermain bersama teman jauh terasa menyenangkan dibanding harus mendatangi acara keluarga atau undangan pernikahan saudara. Hampir setiap weekend agenda keluarga kami adalah arisan, undangan atau mengunjungi uwak/ aki/ uyut anu dari anu.  Sehingga setiap mendengar ada acara keluarga, saya dan kakak-kakak   hanya menghela nafas panjang karena…kurang seru aja rasanya hehe… Tapi Papa selalu bilang   “Kalau orang ngundang tuh kita harus dateng, artinya dia ngehormatin kita. Nanti kerasa kalo kamu nikah, kamu ngundang orang, atau bikin acara, trus ga ada yang dateng. Sedih lho rasanya. Mau kamu kaya gitu?” Itu kalimat andalan Papa jika menangkap gelagat saya dan kakak-kakak males-malesan pergi ke acara keluarga atau undangan waktu kecil dulu. Dengan analogi yang sulit dicerna untuk anak 10 tahun waktu itu, maka dengan berat hati kita semua ikut Papa ke semua acara keluarga, tanpa berbicara satu sama lain di jalan, dan bahkan beberapa hari setelahnya, dan itu berjalan selama bertahun-tahun 😀

Sampai akhirnya kami semua mulai berkeluarga dan mengerti kenapa Papa ingin mengajarkan nilai-nilai tadi. Waktu yang akhirnya menyadarkan kami betapa pentingnya silaturahmi dengan semua saudara-saudara, betapa pentingnya menghargai orang dengan menghadiri undangannya. Juga betapa pentingnya berkumpul bersama saudara kandung, yang dengan kesibukan masing-masing kadang malah bisa menjadi asing satu sama lain.

Saya juga respect sekaligus takjub melihat kekompakan Papa dan 12 saudaranya.  Walaupun mungkin sering juga berbeda pendapat, namun mereka selalu saling menghormati, saling membantu dan peduli satu sama lain. Menyatukan keinginan dari 13 kepala tentu bukan hal yang mudah, namun mereka berhasil melakukannya. Semoga saya, kakak-kakak dan adik saya pun bisa punya semangat yang sama ; saling menghormati, saling membantu dan peduli satu sama lain sampai kelak kami tua nanti, seperti yang dicontohkan keluarga Papa.

Seiring waktu,  akhirnya saya mengerti bahwa tidak ada satupun  keluarga yang sempurna, seperti quotes berikut ;

No family is perfect. We argue, we fight, we even stop talking to each other each times. But in the end, family is family, the love will always be there.”

Menyadari bahwa hadiah terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita bernama kehidupan, saya merasa bersyukur bahwa  sampai detik ini saya  masih diberi kesempatan menghabiskan waktu bersama di hari tuanya.

Happy 70th birthday Papa Obon! Banyak yang menua, tapi tidak membijak, dan semoga Papa bukan salah satunya.

I love you so much, Pa!

Sincerely,

Your little girl.

27 dan 70 :)

One thought on “Happy 70th birthday, Papa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s