A Day In a Park

*another late posting karena nunggu CLARA edisi Agustus 2014 terbit dulu 🙂

 

Kapan terakhir kali Anda piknik bersama pasangan, keluarga dan sahabat ? Selain karena alasan tempat yang amat sangat terbatas, terutama di kota-kota besar yang minim akan public space, mungkin kita lupa bagaimana menyenangkannya piknik itu. Tampaknya House The House ingin mengembalikan memori indah itu dengan menggelar ‘A Day in a Park’. Sebuah event dimana kita bisa menikmati kebersamaan di sebuah taman yang indah. Tak hanya sekedar merasakan piknik, namun Anda bisa memilih aktivitas yang diinginkan; menikmati berbagai sajian special di Open Table Picnic edition, belajar bercocok tanam di Edible Garden Project, plus mengikuti Kuchipudi Indian Dance Workshop.

Matahari bersinar lembut pagi itu. Dari kejauhan, Nu Art Sculpture Park yang dipenuhi berbagai patung karya seniman Nyoman Nuarta ini memancarkan atmosfer yang hangat . Saya langsung disambut dengan berbagai booth dengan penuh tanaman hijau dan bunga-bunga. Ternyata itu adalah  booth Parappa (Pasar Para Petani) yang penuh dengan aneka herbs seperti Rosemary, Mint, Lemon Balm, Stevia dan berbagai sayuran segar yang bisa didelivery ke rumah Anda.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah mereka memberikan edukasi bahwa aneka dedaunan yang biasanya hanya digunakan ketika memasak, ternyata tak kalah lezatnya jika diseduh, seperti layaknya minum teh. Caranya sangat mudah, tinggal pilih herbs yang kita inginkan, misalnya daun mint, lalu diaduk dengan air hangat dan sedikit gula batu. Begitu sampai di tenggorokan, Anda akan mendapatkan sensasi menyegarkan sekaligus menyenangkan. Rasanya tubuh menjadi segar seketika. Tak heran, karena manfaat meminum air herbs tadi adalah sebagai anti flu dan anti depressant. Semua pengunjung boleh mencoba semua herbs yang disediakan. Sekumpulan anak muda yang tergabung di Agritektur ini tak bosan-bosannya memberikan penjelasan menarik soal tanaman-tanaman yang nantinya bisa kita beli dan rawat sendiri.

Sambil meminum minuman hangat yang diracik tadi, kita bisa melihat booth Edible Garden, dimana kita akan diajarkan tentang bagaimana menanam herbs, dan merawatnya. Mereka sudah menyediakan semua media dan peralatan seperti apron, glove dll. Kita hanya tinggal datang, mencobanya sendiri sehingga bisa dipraktekkan ketika kita akan memulai bercocok tanam di rumah. Menarik bukan?

Para pengunjung pun bisa menikmati semua suasana ini sambil menikmati berbagai sajian kuliner sehat yang disediakan. Seperti halnya Bin Ukon Smoked Chicken, lalu aneka Nasi Herbs, Jus sayuran organic  atau Raw Almond milk dari Yummylk, aneka minuman segar dari Lemontree, dan ice cream dari Eskimomo.

Picnic table yang disebar diseluruh area ini bisa digunakan siapa saja sambil menikmati sajian music dari booth DJ.   Crowd yang datang semakin banyak namun tidak membuat suasana menjadi penuh sesak. Saya masih bisa mengawasi anak-anak bermain dari kejauhan, melihat teman-teman yang sedang bersenda gurau sambil menikmati hidangannya, melihat pasangan muda yang sedang asik mengcapture momen berdua menggunakan tongsis, atau bahkan ikut tersenyum melihat anak-anak kecil yang sedang menggoyangkan tubuhnya saat mendengarkan music. (Ini link video Kilau dan Melon yang lagi asik ngedance, yang sempet direkam sama Ing 🙂 : http://www.youtube.com/watch?v=rBnLJIFL8Uc ) Para pengunjung yang datang menggunakan baju putih sesuai dress code: white on white, menjadikan atmosfer kebersamaannya lebih terasa.

Tak jauh dari booth-booth tadi, deretan meja panjang untuk 48 orang yang sudah reservasi sebelumnya untuk menikmati sajian istimewa dari Lukman Gunawan dan Arifin Windarman di Open Table Picnic Edition sudah dihias dengan sangat cantik. Penataan meja yang sangat menarik perhatian ini membuat semua orang berdecak kagum dan jadi spot foto favorit untuk kemudian diupload ke social media.  Semua penataan tadi dilakukan oleh Lukman Gunawan dan sang istri, Maradilla. Majalah CLARA pun berjejer rapi di setiap kursi. Ratusan balon putih yang disebar di kiri kanan meja menambah kesan dramatis, dan pantulan sinar matahari diatasnya membuat suasana siang itu menjadi begitu menyenangkan.

Jam makan siang pun tiba. Lukman Gunawan sebagai host, membuka acara, mengucapkan terimakasih atas kedatangannya di Open Table Picnic edisi perdana. Baru kali ini Open Table yang sering disebut-sebut sebagai pop-up resto membuat acara di taman terbuka. Semua cutlery yang digunakan siang itu juga benar-benar membuat semuanya merasakan piknik yang sesungguhnya. Gelas kertas dengan menggunakan straw berwarna-warni, tempat makan di keranjang untuk menu main course pertama dan box kertas untuk menikmati main course kedua ditata cantik diatas meja. Untuk starternya, masing-masing dibagikan sebuah box yang isinya adalah Mushroom Bruchetta, Sticky Chicks, Fried Wrapped Rice, dan Rosemary Lemonade.  Untuk yang satu ini tidak sempat didokumentasikan karena hidangannya keburu habis dilahap 😀

Sambil menunggu main course pertama datang, Bengkel Tari Ayu Bulan mempersembahkan sebuah tari topeng khas Cirebon. Sebuah kesenian tradisional yang patut kita lestarikan dan mungkin jarang kita lihat, terlupakan oleh kesenian modern dan berbagai performance masa kini. Semua pengunjung memberikan applause yang meriah.

Main course part one pun sudah siap. Nasi, kerang, cumi-cumi, udang, disatukan semua dalam menu Seafood Paella. Disajikan dalam satu box besar dan diperuntukkan untuk 4 orang. Sengaja dibuat dalam satu box besar agar merasakan hakikat piknik sebenarnya. Seru ya? Tak lama, Mojito pun disajikan. Kesegaran mojito yang begitu menyegarkan cocok sekali disandingkan untuk menghilangkan rasa yang ditinggalkan seafood tadi.

Sambil menurunkan makanan, saya menyempatkan diri melihat teman-teman yang sedang mengikuti Kuchipudi Indian Dance Workshop. Diikuti oleh puluhan peserta dan diajarkan oleh Kuchipudi Guru yang langsung didatangkan dari India, Ms Shreelatha Narapuraju. Kuchipudi sendiri adalah tarian classic yang sudah terkenal sejak lama, terutama di daerah India Selatan. Senang sekali melihat teman-teman yang antusias mengikuti setiap gerakan yang diajarkan. 15 gerakan basic yang sangat energik mungkin terlihat mudah, namun jika mencobanya sendiri, saya jamin keringat pasti akan mengalir deras dari tubuh Anda.

Tak lama saya kembali ke meja untuk menyantap main course part two, yaitu  Meat Skewers with Leprechaun Potato. Meat Skewers ini disajikan seperti shaslik, dan terdiri dari garlic, beef, pear, paprika, timun dan onion. Dagingnya terasa lembut sekali dan melting di mulut sehingga tidak butuh effort besar untuk menikmatinya. Sepotong lamb yang tak kalah nikmat dan melting, sengaja ditaruh di tusukan terakhir, semacam kejutan untuk mengetes lidah perasa Anda, and it works!. Beberapa orang mungkin  merasakan adanya perbedaan rasa dan tekstur, sementara sebagian lagi tidak merasakan perbedaannya sama sekali karena diolah dengan sangat baik sehingga mengecoh lidah perasa. Great job! Disajikan dengan potongan kentang yang dibumbui oleh parsley, Leprechaun Potato ini sangat nikmat. Untuk hidangan ini, ada dua saus yang diracik oleh Chef Lukman dan Ipin. Saus yang terdiri dari mayonnaise diperuntukkan untuk menambah rasa pada kentang, sedangkan saus satu lagi terbuat dari campuran santan dan diperuntukkan untuk menambah kelezatan dagingnya. Selesai menikmati main course part two, perut saya terasa full, sambil tak lupa mengucapkan syukur sudah diberi kenikmatan makanan yang luar biasa ini.

Walaupun begitu, beberapa saat kemudian, perut ini sudah siap untuk menikmati dessert. Nampaknya kita selalu punya ruang khusus dalam perut  untuk menikmati dessert bukan? Kali ini menu dessertnya adalah Berries Popsicle, Coconut Bowl. Membayangkan kesegaran buah berrynya saja sudah membuat saya tak sabar mencobanya, dan ternyata dugaan saya benar. Disajikan dengan batok kelapa dimana didalamnya terdapat campuran yoghurt, lychee, marshmallow dan parutan kelapa muda. Sedangkan Berries Popsiclenya menambah rasa segarnya secara keseluruhan. Dua dessert yang disajikan menjadi satu ini menutup Open Table Picnic Edition dengan sempurna. Seolah perut ini juga memberi sinyal : “Mission accomplished!”.

Sesaat setelah selesai menikmati semua hidangan special tadi, teman-teman dari Agritektur membagikan sebuah buket cantik berisi sayuran segar organic untuk dibawa pulang. Buat saya, ini jadi satu hal unik dan berkesan yang belum pernah saya temui sebelumnya.

Tapi bukan berarti acara piknik ini berakhir. Masih ada sajian Tari Legong Lasem yang berkisah tentang Prabu Lasem yang menculik Dewi Rangkesari untuk diperistri dari Bengkel Tari Ayu Bulan di panggung utama. Setelah itu, masih ada performance special yaitu sebuah tarian Kuchipudi yang berkisah tentang kehidupan Krishna dipersembahkan khusus sebagai penutup acara. Sambil duduk santai di picnic table sekitar stage, semuanya mengapresiasi dengan sangat baik. Suara tepukan yang riuh rendah benar-benar membuat sore itu meninggalkan banyak sekali kesan.

Seharian berada di tempat yang indah, piknik bersama teman dan sahabat, sambil menikmati tarian tradisional yang jarang kita nikmati, menjadikannya sebagai sebuah priceless moment yang selalu ingin diulang kembali.

 

Bareng Fiba yang lagi hamil gede waktu itu hehe maacih udah nemenin akoh ya :*

Ketemu Mursi juga, yeay! 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s