Food Is Your Frenemy

“Sehat itu mahal”. Pepatah sederhana ini seringkali terlontar jika kita sedang jatuh sakit atau menengok teman & kerabat kita yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Dibilang mahal karena biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan bisa menguras habis uang tabungan hasil banting tulang yang kita kumpulkan selama ini.

Gaya hidup masa kini yang cenderung memanjakan perut dengan banyaknya fashion food yang lezat dan membangkitkan selera, ternyata bisa membuat enzim tubuh terkuras dan bekerja lebih keras dari yang seharusnya. Padahal makanan manusia yang sesungguhnya adalah real food, makanan yang sama dengan bentuk aslinya dan disediakan oleh alam. Mereka adalah sayur, buah dan biji-bijian.

Saya lantas berpikir apakah ini merupakan rahasia mengapa orang jaman dulu berumur panjang dan jarang terkena penyakit menakutkan seperti jaman sekarang. Para ahli riset yang terkait dengan terapi diet alamiah dari abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh mencatat pola makan sehat sehat konon berasal dari sebuah kelompok yang disebut Essene yang hidup di Palestina sekitar permulaan abad ke-20. Pola makan mereka menganjurkan untuk makan semua makanan yang disiapkan dan dimatangkan oleh bumi. Mereka banyak memakan makanan mentah, kemudian melakukan puasa yang panjang, Mereka pun terkenal sebagai suku yang sangat sehat dan hidup sampai usia kira-kira atau lebih dari 100 tahun.

Cerita bangsa Eskimo kurang lebih sama. Mereka jarang sekali terkena penyakit jantung. Rahasianya, mereka banyak makan mengkonsumsi ikan segar antara 300 gram hingga 400 gram perhari. Lain lagi dengan suku Hunza yang panjang umur sebab menu utamanya dari alam. Bisa jadi suku bangsa sepanjang masa sejarah adalah orang-orang yang menerapkan Food Combining; kerap kali secara alami karena mereka tidak secara sadar memisahkan kelompok-kelompok makanan tertentu. Mereka tidak terbiasa makan beberapa jenis makanan dalam satu waktu makan seperti yang kita lakukan saat ini.

Lantas bagaimana sebaiknya memperbaiki kebiasaan makan kita? Karena semoga Anda setuju kalau penyakit selalu ada hubungannya dengan makanan yang kita konsumsi. Menariknya, banyak sekali pola makan popular yang bisa Anda ikuti, tergantung perspektif masing-masing. Contoh pertama misalnya memilah menu antara protein, karbohidrat serta sayuran dan membiasakan untuk sarapan buah seperti yang dikutip dari buku “Food Combining Itu Gampang” milik Erikar Lebang. Biasakan minum air hangat perasan lemon begitu Anda bangun tidur, kemudian dilanjutkan dengan sarapan buah yang bervariasi. Saat jam makan siang, Anda bisa memilih menu protein dan sayuran. Sedangkan untuk menu malam hari Anda bisa menghidangkan karbohidrat ditambah sayuran. Ada alasan mengapa dalam food combining, perpaduan unsur dasar makanan jadi hal yang utama. Protein idealnya dikonsumsi bersama sayuran, pati (karbohidrat) bersama sayuran, dan pati tidak dimakan bersamaan dengan protein. Singkatnya adalah karena tubuh kita punya enzim yang berbeda untuk memproses masing-masing unsur makanan dasar tadi. Jika tetap digabungkan, maka itu akan memperberat kerja system cerna dan menguras enzim yang seharusnya bisa dihemat oleh tubuh kita.

Contoh kedua adalah konsep popular yang menempatkan pola makan dalam hitungan kalori agar tubuh selalu ada dalam kisaran berat badan ideal. Dimana konsepnya adalah “Kalori masuk harus seimbang dengan kalori yang keluar”. Makanan yang kita makan harus digunakan oleh tubuh dengan seimbang agar tubuh tidak menyimpan cadangan sisa makanan dalam bentuk lemak dalam jumlah terlalu banyak. Olahraga juga menjadi faktor sangat penting untuk menunjang keberhasilan diet kalori ini.

Contoh ketiga adalah pola makan yang mostly disarankan personal trainer di klab kebugaran. Untuk menjaga kondisi tubuh, biasanya disarankan menjaga asupan kalori masuk dengan menghindari karbohidrat, dan mengonsumsi banyak protein hewani.

Tentu itu hanya sedikit contoh dari sekian banyak pola makan yang ada di dunia ini. Semua pasti mengklaim bahwa itu yang terbaik dan ideal bagi tubuhnya, tergantung sejauh mana pemahaman masing-masing soal sistem cerna tubuh ini.

Berbicara soal ideal, buah, sayuran dan biji-bijian adalah substansi makan terbaik yang dibuat oleh Tuhan. Maka tak heran kalau dari konsep pola makan sehat modern, semua memasukkan 3 unsur tadi untuk dikonsumsi oleh tubuh kita. Namun apa sih sebenarnya yang kita dapatkan dengan mengkonsumsi sayuran, terutama sayuran segar? Selain mengandung enzim, nutrisi dan mineral, sayuran jadi pembentuk PH darah basa yang sangat positif bagi tubuh kita. Enzim inilah yang menjadi energi kosmik dan inti kehidupan yang menjadi katalisator seluruh aktivitas dalam metabolisme tubuh. Semakin sering mengonsumsi buah dan sayuran segar, itu menghemat banyak cadangan enzim dalam tubuh. Bisa jadi selama ini yang kita lakukan adalah menguras cadangan enzim dengan mengonsumsi makanan yang diproses atau malah makanan instan.

Dr Hiromi Shinya, dokter pakar naturopati dalam bukunya “The Miracle of Enzym” mempunyai teori bahwa tubuh sebenarnya memiliki cadangan enzim starter dengan jumlah tertentu, namun jika enzim pangkal itu terus terpakai, maka kemampuan hidup manusia secara menyeluruh akan berkurang, bahkan akan habis. Ini juga bisa menjelaskan mengapa banyak orang dengan usia yang relative muda divonis penyakit degeneratif. Bukan menakut-nakuti tapi itu fakta yang terjadi di lingkungan kita.

Banyak fakta mengejutkan seputar makanan yang saya temukan dari hasil membaca literatur. Salah satunya bahwa ternyata kalsium dan magnesium yang diperlukan oleh tubuh kita ternyata didapatkan dari sayur dan buah segar, bukan dari susu sapi! Tentu saja ini menimbulkan pro dan kontra. Hal itu sah-sah saja mengingat perbedaan pola pikir dan sebaik apa mengenal tubuh kita sendiri.

Yang jelas saya setuju kalau kita   harus menjaga apa yang akan masuk ke mulut & perut, sebagai penentu apakah hidup kita akan sehat berkualitas atau tidak. Menjaga pola makan dan pola pikir yang sehat, ditambah dengan berolahraga memang jadi kombinasi ideal dalam menjaga kesehatan fisik. Karena sangat mungkin apa yang jadi gaya hidup kita sekarang dan beberapa tahun belakangan, baru akan memperlihatkan efeknya di beberapa tahun mendatang, seperti kata Deepak Chopra, “The way you think, the way you behave , the way you eat, can influence your life by 30 to 50 years”.

—–

Artikel ini dimuat di CLARA & AXA Mandiri Booklet November 2013.

IMG_4180

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Food Is Your Frenemy

  1. mantap…. thanks for artikelnya….
    tapi zaman sekarng gimana caranya agr terhindar dari makanan yang kurang menyehatkan….? mohon jawabannya…
    mungkin juga bisa nih mengetahui Pengertian Hidup Sehat semoga bisa bermanfaat nih…. makasih bnyak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s