Jangan lupa bernapas

IMG_0088Pernah ga tiba-tiba ngerasa butuh hening dengan diri sendiri dan ga pengen siapapun masuk dan merusak keheningan itu? Semacam ada jeritan yang ga bisa ditahan dan cuma bisa dirasain sama diri sendiri. Si rasa ‘tiba-tiba’ ini muncul ke permukaan karena ada yang mengirimkan sinyal ke tubuh untuk dipijit tombol ON-nya. Siapakah yang mengirimkan sinyal itu? Saya sih yakin jawabannya adalah jiwa. Kalo fisik kita lelah, pasti efeknya adalah dia pengen istirahat, kemudian ga lama, tidurlah kita dengan lelapnya. Tapi kalo jiwa yang lelah, rasanya resah, mulek, gundah gulana. Ga enak ngapa-ngapain. Sebenarnya jawabannya gampang sih, ia hanya akan meminta kita bernapas dengan kesadaran penuh untuk hening sejenak, mencari kedamaian yang letaknya ada dalam diri kita. Iya, yang di dalam, bukan di luar. Makanya seolah jadi ga butuh orang lain, dan hanya senang bersamaNya.

Cuma terkadang kitanya aja ga peka, karena jiwanya terlalu sering diabaikan. Kita juga kalo keseringan dicuekin, lama-lama ya baal bin ilfil juga kan? Si jiwa juga sama sih. Jadi emang harus mulai diasah kepekaannya terus menerus.

Salah satu indikator yang tepat untuk menggambarkan apakah kita sudah cukup peka adalah udah bisa ngerasain senang yang tidak berlebihan, tapi ga lantas mendadak  sedih extra mellow. Semuanya jadi biasa aja. Tapi juga bukan yang ngerasa flat dan jadi bego ga bisa mikir, tapi lebih ke sadar aja sama semua situasi.

Sadar untuk lebih hati-hati bertindak dan berbicara. Kalo ga penting untuk diomongin ya lebih baik diam. Kalo kira-kira yang mau kita omongin malah bikin orang lain ga nyaman, ya lebih baik diam aja. Juga harus peka kalo orang pun bisa sangat  bosan dengan apa yang kita bicarakan, apalagi mendengar hal yang sama, walaupun itu bermuatan kebaikan. Kalo cara menyampaikannya salah, yang ada malah masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Syukur-syukur orang ga alergi.  Ga mau juga kaya gitu kan?

Nah kalau sudah sadar bahwa kita terlalu banyak ‘bicara’, sang jiwa akan memberikan kode untuk menagih keheningan. Bersyukurlah kalo sensitif terhadap kode itu, karena berarti alarm kesadarannya masih nyala dan berfungsi dengan baik.
Kalau sudah begitu, ya nikmati saja momen untuk belajar mendengar lebih banyak. Bukan mendengar orang lain, tapi mendengar suara di dalam diri kita.
Suaranya juga bukan suara pikiran di kepala kita yang ga pernah berhenti berkicau, tapi suara yang munculnya dari hati, dan sifatnya menenangkan.
Karena hanya dalam diam, hening dan sadar kamu akan tau bedanya.
Karena dalam diam, Dia sebenarnya sedang mencoba melembutkan hati kita yang tanpa sadar mengeras seperti batu.
.
.
Selamat pagi! Sudah bernapaskah kamu pagi ini? 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s