Generasi Menunduk VS Generasi Menengadah

pexels-photo-247304
pic from pexels.com

Karena tangan kanan saya udah mulai sering   kram dan kaku, saya lalu browsing dan mendapatkan informasi kalau kayaknya saya mulai terkena text claw. Katanya sih text claw ini adalah istilah non medis yang menggambarkan kram atau nyeri otot-otot karena terlalu lama mengetik teks. Duh gawat! Kayaknya saya mulai overdosis megang handphone 😦 Ini adalah salah satu efek negatif dari generasi menunduk, yes?

Ngomongin soal generasi menunduk, ternyata bahasan ini sudah muncul sejak tahun 2011. Saya sendiri ga terlalu ngeh sih sampai belakangan ini ngerasa lelah sendiri karena serangan whatsap yang bertubi-tubi, trus jadi banyak baca soal generasi menunduk yang begitu dibaca ciri-cirinya ko saya banget.. zzz… Nyandunya parah sih. Pengen banget diabaikan, tapi ya ga bisa juga, secara cari duitnya ya ada disitu semua.  Misalnya ada yang mau reservasi, ada yang nawarin kerjaan, mesti posting dan memonitor socmed. Jadi gimana dong? 😦

Kilau pun beberapa kali protes karena saya keseringan megang handphone.  “Ibu bisa ga handphonenya ditaro dulu, aku mau main sama Ibu” 😦 Maaf ya Kil, handphonenya emang posesif berat 😦 *nyalahin handphone, padahal sendirinya aja yang ga bisa ngontrol * 😦

Kalo udah kaya gini pengen banget detox smartphone deh.  Lucu juga ya kalo diadain hari dimana kita detox smartphone secara serentak. Ga usah lama-lama sih sebulan aja, kaya puasa. Jadi kalopun ada urusan kantor yang penting banget, kirim surat aja, biar pak pos jadi banyak kerjaan lagi 🙂 Kan enak tuh,  hidupnya lebih slow aja (kayaknya). Ga banyak diteror via whatsap kalo kerjaannya belum beres hihihi…

Trus saya jadi ingat waktu lagi berkunjung ke Vatikan dan melihat karya lukisan Michaelangelo yang melukis langit-langit Sistine chapel  dengan gambar indah yang penuh simbol dan makna. Menurut sejarah, lukisan ini mulai dibuat tahun 1508 dan dia membutuhkan waktu hampir 4 tahun untuk menyelesaikan lukisan tersebut. Selama itu jugalah dia menengadah terus-menerus, sampai mengalami sakit leher akut.  Melihat pengorbanannya itu, bisa dibilang mungkin generasi saat itu merupakan kebalikan dari generasi menunduk saat ini. Kalo kita sibuk nunduk balesin whatsap atau ngecek path dan IG, dia mah sibuk mendongak buat menyelesaikan masterpiece lukisan yang merupakan interpretasinya soal Tuhan dan penciptaan dunia.

Chapelle_sixtine2
pic from wikimedia.org

Saya jadi ingat, pas nyampe di dalam chapel, peraturannya adalah ga boleh ngobrol dan ga boleh motret. Kalo ada yang ketauan motret diam-diam atau merecord video di dalam chapel, dia akan kena denda besar banget. Jadi begitu ada di dalam ruangan itu, semua orang otomatis mendongak ke atas untuk melihat lukisan Penciptaan Adam yang memang merupakan sebuah karya seni tak tertandingi dan menjadi salah satu lukisan paling direplikasi sepanjang masa. Kenapa pas di dalam ga boleh mengabadikan apapun? Tujuannya adalah biar pas kita melihat lukisan itu kemudian kita memaknai sendiri perjalanan kita sebagai manusia dengan lebih dalam.

Lukisan Michaelangelo itu juga seolah mau ngingetin saya bahwa jangan nunduk dan ngurusin dunia mulu, ada urusan yang lebih penting, mendongak dan menengadah sama Tuhan yang menciptakanmu!  Ga mungkin kan dia sampe kerja keras mati-matian menyelesaikan lukisan simboliknya sampe bertahun-tahun itu kalo ga ada pesan abadi yang pengen disampaikannya sama manusia lainnya?  Dia kaya pengen ngasih tau bahwa ada hal penting soal langit dan kesadaran manusia yang berlapis-lapis. Gila, Michaelangelo itu jenius sekali ya! Sejenius Raja Samaratungga yang membangun candi Borobudur yang juga membuat simbol-simbol yang hanya bisa diartikan jika sudah tau kunci ketuhanan.

Mungkin karena dulu belum ada teknologi canggih seperti smartphone, orang-orang banyak yang menghabiskan waktu untuk berpikir mengenai Dia dan semesta ini. Sibuk  menengadah sama Tuhannya, makanya pada punya visi ke depan dan super jenius. Ya ga sih? Sekarang teknologi udah canggih tapi malah sibuk ngurusin orang lain,  dan ngurusin yang ada di luar dirinya mulu.

Semoga sisa perjalanan kita bisa menebus kebodohan kita di masa silam. Karena dua tugas manusia yang saya ingat adalah menjalani peran sebagai kepanjangan tangan Tuhan dan membayar utang yang belum lunas di masa lalu. Jadi plis jangan sia-siain hidupnya cuma buat nunduk ngurusin dunia yang memang maya ini. Ya paling banter juga dijauhin atau diunfollow sama temen sendiri.. Trus kenapa? Ga apa-apa juga kan? Ga ada yang abadi juga di dunia mah yes?

Mending juga banyakin menengadah untuk melihat langit dan cahayamu sendiri.  Emang mau diunfollow sama Tuhan karena kelamaan ga inget sama Dia? Saya sih ga mau. Kalo kamu? 🙂

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Generasi Menunduk VS Generasi Menengadah

  1. Gw digital detox tiap liburan summer, dua hari ga nyalain handphone. Terus dalam sebulan biasanya ada seminggu uninstall segala sosmed di hp, cukup whatsapp aja. Ngaruh banget, membiasakan otot-otot dan pikiran ga ngecek hp melulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s