C for Compromise dan K untuk Kompromi

Sebuah pesan dari seorang teman lama masuk ke whatsapp saya.

“Hi Nggi, gimana kabarnya?

Lagi sibuk ga?”

Kalimat sapaan yang biasanya digunakan sebagai pengantar untuk bercerita panjang lebar alias curhat. Benar saja. Setelah saya jawab dan bertanya balik bagaimana kabarnya, dia langsung bercerita bahwa hubungan dengan pasangan yang baru dinikahinya setahun lalu terpaksa bubar karena sang pasangan mulai membatasi geraknya dan memintanya mundur dari profesinya sebagai dancer. Di hari yang sama, saya juga mendengar berita kalau teman saya yang seorang PR ternama gagal menikah karena pasangannya merasa keberatan dengan kebiasaan cipika cipiki dengan teman lawan jenisnya yang sebenarnya dianggap lumrah dalam pergaulan masa kini. Saya pun mengernyitkan dahi,

“Apakah punya pasangan beda profesi berarti tidak bisa mengerti satu sama lain?”

“Rasanya tidak selalu ya” itu jawaban yang saya dapatkan setelah tanya kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang. Mungkin dua contoh kasus diatas hanya penggambaran dimana mereka telah mencoba berkompromi satu sama lain tapi tidak berhasil dan menemukan jalan buntu. Begitu rata-rata analisa semua orang yang saya tanya, termasuk juga seorang teman perempuan saya yang saat ini sedang merasakan kebahagiaan menjalani pernikahannya….yang keempat !

Dia adalah pribadi yang supel, ceria, dikaruniai paras dan tubuh bak model dan berprofesi sebagai Master of Ceremony. Kesan saya waktu pertama kali bertemu, dialah perempuan paling bahagia di dunia ini karena memiliki segalanya. Tapi ternyata Tuhan tidak membuat skenario yang mudah untuknya dalam panggung sandiwara ini. Setelah gagal membina rumah tangga dengan musisi dan pengusaha, dia banyak mengambil pelajaran soal kehidupan. Terlepas dari masalah ego dan factor X lainnya, namun dia termasuk yang mengiyakan kalau profesi punya porsi yang sedikit banyak mempengaruhi karakter seseorang dalam menjalani sebuah hubungan, terutama pernikahan yang kadang dirasa terlalu-amat-sangat kompleks.

Lalu dia bercerita kalau pasangannya yang sekarang ini bekerja di pemerintahan sebagai seorang leader. Jadi karena si pasangan biasa memimpin dan mengatur di kantor, kadang sering terbawa ke kehidupan rumah tangganya. Pekerjaan si pasangan yang identik dengan kedisiplinan dan serba tegas, akhirnya membentuk pribadi yang sedikit ‘kaku’ juga dalam masalah pergaulan. Contohnya adalah diberlakukannya jam malam setiap harinya tanpa kecuali untuk si teman perempuan saya ini. Kemudian tidak boleh lupa untuk report apa saja jadwal hari ini, siapa yang akan ditemui, keperluannya apa, jam berapa, berapa lama, dan dimana. Belum selesai sampai disitu, akan ada ‘pengontrolan’ setiap beberapa jam sekali by phone. Semua itu bagaikan sebuah agreement yang diterimanya dengan lapang dada sebagai bagian dari kompromi dirinya untuk membuat pasangannya menjadi nyaman dan percaya. Mendengar dia bercerita, saya hanya bisa mengucap “Wow” sambil menelan ludah. *glek.

Ya, kita semua tahu bahwa setiap individu memang diciptakan berbeda satu sama lain. Makanya kenapa kata ‘kompromi’ akhirnya selalu hadir untuk ‘menjembatani’ setiap hubungan, entah itu pertemanan, keluarga ataupun pernikahan. Melihat arti katanya sendiri dalam kamus bahasa Indonesia online, kompromi adalah persetujuan dengan jalan damai atau saling mengurangi tuntutan. Tapi sampai kapankah kita harus berkompromi? Baru membayangkan ada di posisi teman perempuan saya tadi saja tiba-tiba rasanya sudah stress duluan.

Saya lalu teringat perkataan teman baik saya yang bilang bahwa pernikahan adalah kompromi terhadap diri sendiri.

“Kalau kompromi dengan pasangan, jatuhnya akan cape” begitu katanya.

Memang sih terdengar jauh lebih simple, tapi dibutuhkan usaha yang tidak kalah kerasnya, karena melawan ego diri sendiri ini jauh lebih dahsyat beratnya bukan?.

Urusan pemilihan pasangan beda profesi VS seprofesi juga sering dijadikan bahan diskusi teman-teman saya. Ada yang fine dengan pasangan yang beda profesi agar hidupnya lebih dinamis, saling menambah wawasan, juga berbeda dalam soal penghasilan. Tapi ada juga yang mendambakan memiliki pasangan seprofesi agar selalu sejalan dan seirama. Apapun pilihannya, idealnya pelajari dulu dunia pasangan sejak awal, apalagi kalau sudah memantapkan niat untuk menjalin hubungan lebih serius. Bisa dimulai dari mengenal teman-teman seprofesinya, lalu cara kerjanya dan pergaulannya juga. Dengan harapan bisa membangun satu pemahaman, pengertian yang tujuannya adalah meminimalisasi hal-hal yang bisa memicu perselisihan nantinya.

Semakin cepat terdeteksi apakah pasangan bisa menerima atau merasa ga cocok dengan dunia kita, malah semakin bagus kan?

Namun kalau semua usaha itu tidak membuat pasangan mengerti dan menerima dunia kita, apa boleh buat, pertanda hubungan memang tidak bisa dilanjutkan lagi. Bhaaaaayyyy!!!!!!

Tapi kalo stok sabar masih banyak sih,  masih ada kok pilihan lainnya, yaitu mencoba berkompromi seperti yang dilakukan teman perempuan saya tadi. Tinggal pilih, mau berkompromi demi pasangan saja, atau mulai berkompromi dengan diri sendiri untuk hal apapun.

Jika akhirnya kamu memutuskan mengambil pilihan yang kedua, coba buktikan statement bijak berikut:

“Semakin sering kita menyesuaikan diri, rasanya malah jauh lebih nikmat”.

So, are you ready for this endless process? 🙂

Tapi kalo lelah, lambaikan tangan ke kamera aja ya, karena itu pilihan juga kok  😀

 

Jawaban ini muncul dari hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan secara random dengan bertanya : “Apa yang ingin dimengerti dari si pasangan soal profesi Anda?”

————————————————————————————————————

Atlet : Performa fisik jelas nomor satu. Tuntutan profesi mengharuskan menjalani gaya hidup yang sehat. Support terus menerus agar focus, terutama jika akan menghadapi turnamen atau pertandingan lainnya, dengan cara tidak menuntut perhatian yang lebih disaat-saat pentingnya.

 

Musisi : Profesi yang satu ini menuntut pengertian dari pasangannya bahwa terkadang waktu bekerjanya tidak fix seperti kerja kantoran. Misalnya jadwal manggungnya di rundown jam 10, tapi pada kenyatannya jam 11 juga belum mulai. Jadi usahakan tidak terus-terusan ‘ngomel’ soal jam kerjanya, apalagi mengharuskan untuk selalu pulang tepat waktu. Memiliki kepribadian yang fleksibel dan tidak cemburuan akan lebih disukai.

 

Pengusaha : Kesibukan dan sedikitnya perhatian biasanya adalah salah satu penyebab cekcok kecil. Untuk mengantisipasinya, jelas harus bisa mengerti kesibukannya, dan mengusahakan momen sekecil apapun dinikmati agar setiap pertemuan itu berkualitas.

 

Dosen : Menjadi dosen itu ternyata tidak hanya mengajar saja, tapi banyak kegiatan lain seperti penelitian dan pengabdian. Yang harus dimengerti pasangannya adalah soal penghasilan. Karena mengajar itu adalah passion, pengabdian dan perjuangan, bukan ladang untuk mencari pundi-pundi emas.

 

Jurnalis : Jam kerja yang kadang tidak menentu memang identik dengan profesi yang satu ini. Lalu juga sering mendapat tugas ke luar kota atau ke luar negeri dalam jangka waktu tertentu. Bahkan bukan tidak mungkin sering dikirim ke tempat yang tidak aman sama sekali, tergantung kebijakan media tempat dia bekerja. Mandiri, smart, dan selalu mengikuti perkembangan berita sepertinya menjadi sebuah ‘paket lengkap’ yang harus dimiliki jika Anda mempunyai pasangan yang berprofesi sebagai jurnalis.

 

Desainer : Selain waktu kerja yang tidak seperti jam kantor, juga harus bisa mengerti bahwa profesi ini mengharuskan untuk banyak mingle dengan orang-orang serta relasi, jadi jangan gampang tersinggung, apalagi kalau merasa diabaikan. Berdandan rapi dan sering menghadiri berbagai perhelatan juga adalah bagian dari tuntutan profesi, jadi jangan dianggap semata-mata ingin tebar pesona.

 

Dokter : Dengan profesi yang sering dianggap manusia setengah dewa, yang tahu segalanya, rata-rata mereka mendambakan partner hidup yang enak untuk dijadikan teman diskusi apapun dan mempunyai selera humor yang baik agar bisa menghilangkan kepenatan setelah adrenalinnya diuji setiap hari.

 

 

 

*Artikel Deal or No Deal: C for Compromise, for CLARA Love, 2013.

pic: pexels.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “C for Compromise dan K untuk Kompromi

  1. Nggi, kalo ngelarang pergi-pergi dan cpika-cipiki, menurut gw itu mah lakinya yang insecure lalu ujung2nya posesif. Ya pantesan pada minta cerei, abis kebebasan dibatasi, padahal kebebasan adalah bagian penting dari bahagia. Kalo menurut gw, inti semua hubungan itu “consideration”, yah mirip2lah sama kompromi 🙂

    1. Diiiit, iya itu sih jelas insecure dan berujung posesif. Tapi itu kisah nyata! Parah ya 😦 Ah, gw setuju tuh sama consideration. Penting juga sih itu. Jadi ditambah ya, C for consideration 🙂 gimana? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s