Diayak bagaikan tepung

Baking ingredients
credit photo: freefoodphotos.com

Saya bisa dibilang jarang sih bikin kue. Saking jarangnya bahkan bisa diitung dengan sebelah tangan berapa kali saya pernah bikin kue sendiri. Tapi dari semua proses pembuatan kue ini, proses paling favorit adalah saat saya harus mengayak tepung terigu. Kenapa harus diayak? Karena gunanya adalah  menjaga kualitas tepung terigu yang akan digunakan, juga agar tidak menggumpal dan menjaring dari kemungkinan adanya kutu, batu atau benda kecil apapun. Jadi proses mengayak itu adalah proses awal yang penting banget. Hasil ayakannya bisa menentukan seperti apa hasil akhirnya.

Trus saya jadi ngebayangin proses kehidupan yang ternyata ga jauh juga dari proses ayak-mengayak ini. Sadar atau engga, masalah pertemanan kayanya paling  gampang dijadiin contoh untuk mendeskripsikan  proses peng-ayak-an tingkat receh  😀 Misalnya   aja dulu punya temen yang deket banget,  dan sekarang ngerasa males aja gitu. Ngerasa chemistrynya udah menguap ke udara. Biasanya sih karena ada kejadian yang bikin ga enak, kaya difitnah atau diomongin di belakang.  Tapi dari situ kita jadi tau harus berteman dengan siapa. Tau siapa yang harus didengerin dan yang engga. Tau gimana caranya move on dari pertemanan dan berdiri sendiri.  Tau juga yang mana teman yang oportunis dan yang engga.  Abis itu biasanya kita akan memasuki fase dimana kuantitas teman tidak lagi penting. Karena biasanya kalopun punya geng yang jumlah anggotanya banyak, pasti nantinya bikin grup-grup kecil lagi. Makanya kenapa path juga nyiptain si inner circle kan? hehe.. karena emang secara alamiah, kita hanya akan berteman sama yang bikin nyaman dan juga sebaliknya. Titik.

Jadi ga usah juga takut kalo mulai sadar ga punya banyak teman yang bisa dipegang omongannya, dan mulai menghilang satu persatu. Kata sahabat saya yang bijaknya ga ada dua, semakin sedikit teman kita,  ini bukti kalo kita sebenarnya sedang ‘diasuh’ sama yang menciptakan kita.

Nah proses peng-ayakan ini akan berlaku ke seluruh aspek kehidupan, termasuk soal perduitan dan semua yang berbau kemelekatan. Gimana taunya kita lagi ngalamin proses peng-ayak-an atau engga?  Ya liat aja kejadian yang terjadi sama hidup kita. Misalnya nih tiba-tiba harus kehilangan duit karena ditipu orang, usaha gagal  terus, mobil dijabel,  rumah mau disita bank dan 1001 kekusutan lainnya dalam hidup. Jangan sedih gaes, proses peng-ayak-an ini akan terus terjadi sampai kita  merasa lelah dan ga berdaya, dan sampai akhirnya kita sadar dengan utuh bahwa kita ga ada bedanya dengan partikel tepung yang sangat kecil dan tidak berhak memiliki apapun di dunia ini.  Selama kesadaran itu belum muncul, ya kita akan dihadapi dengan masalah yang sama terus menerus.  Makanya sing eling ya, gaes! 🙂

Kalo diliat-liat, ada sebuah kesamaan antara si tepung dan manusia kalo lagi ngalamin proses peng-ayak-an tadi.  Si tepung juga pasti merasa lelah dan pusing karena digoyang-goyang mulu. Mereka harus mengalahkan saingan berat, yaitu tepung-tepung lainnya yang jumlahnya banyak untuk diayak ke lubang kecil. Tentu itu bukan hal  mudah buat tepung terigu. Dia harus berjuang dengan sekuat tenaga mengecilkan partikel yang dibawanya sampai akhirnya lolos. Bayangkan, dia harus membuang semua egonya untuk masuk ke dalam saringan kecil ini!!!   Untuk yang ga lolos proses ini ya akan dibuang begitu saja. Atau buat tepung yang tahan mental, ia akan terus mengikuti proses ayakan berikutnya,  sampe akhirnya lolos. Bagaikan ikut audisi ya sis ..hahaha.. Disini mereka juga belajar mengalami kegagalan. Bisa jadi sang tepung ini sedih, berlinang air mata dan sering nangis sendirian saat malam-malam saat mau tidur . Tapi kita ga pernah tau kan? *yaiyalah da benda mati meur* 😀  Tapi lihat  kalo proses ayaknya udah beres…dia akan jadi haluuusss banget dan jadi tepung berkualitas tinggi.  Kemudian butiran tepung tadi akan menjelma jadi kue cantik dan bersemayam di perut orang-orang yang bahagia karena kuenya enak bangets dan mungkin akan diingat terus sebagai kue terlezat sampai 7 turunan kelak.

Begitu juga manusia yang acak coraknya lebih abstrak daripada tepung.  Kelakuannya pun beraneka ragam. Jadi terima aja kalo ngerasa lagi  diayak terus menerus sama semesta melalui kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan. Lelah, sedih dan butek adalah rasa yang sangat wajar dirasakan saat menjalani proses ini. Tapi jangan kelamaan. Bersiaplah menerima kenyataan  bahwa  kita sedang dijauhkan dari manusia-manusia yang ga asik, juga dalam proses untuk dilembutkan hatinya bagaikan sehalus tepung 😀 , didekatkan sama rezeki yang barokah sekaligus dipersiapkan menjadi manusia yang berkualitas. Gitu sih..

Jadi gimana gaes???? Siap digoyaaang? Eh, maksudnya diayak bagaikan tepung ???? Sok atuh sing semangat yaaaa, gaes 😀

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Diayak bagaikan tepung

  1. Selalu suka dengan tulisan-tulisan Mbak Anggi; ngalir dan kayak diajak ngobrol, topiknya juga sesuai realita. Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s