Warung Kopi Imah Babaturan. Part dua



Dulu saya pikir punya warung kopi tidak akan terlalu menyita pekerjaan yang sudah saya jalani sebelumnya. Tapi ternyata kebalikannya. Faktanya adalah adanya warung ini malah mengambil jatah tenaga, pikiran (dan uang tentunya! 🙂 ) lebih banyak daripada kerjaan lainnya. Mungkin perumpamaan yang paling tepat soal ini adalah; kaya punya bayi lagi!. Ga bisa ditinggal terlalu lama (bisa sih tapi kepikiran terus), harus fokus mikirin semuanya, mulai dari manajemen dapur (belanja dan mengelola biaya operasional) lalu gimana bikin kesepakatan-kesepakatan sama para crew yang ada disana, dengan bekal pengetahuan yang masih sebesar biji jagung.
Terlepas dari segala kekurangan dan kekeosan yang ada setiap harinya, saya senang ternyata warung kopi ini jadi tempat yang tepat untuk belajar melayani orang lain dengan tulus, juga tempat untuk mengenali beragam karakter manusia; belajar menghargai orang lain, sekaligus jadi ajang belajar berempati melihat Mbak dan Mas No yang struggle dengan kondisi yang terbatas di dapur; belajar sabar dari orang-orang yang ga sabaran; belajar tertular beragam kebahagiaan; belajar melihat ekspresi mereka sewaktu sedang menghabiskan waktu disini; belajar menerima komentar bagus dan kurang bagus, dan belajar menerima kedua tanggapan tadi dengan rasa yang sama, dan belajar menikmati semuanya.
Seiring perjalanannya yang sudah memasuki usia 6 bulan, buat saya, warung kopi ini menjelma menjadi sebuah playground baru, tempat dimana saya bisa bertemu dengan banyak teman-teman lama dengan rasa baru, dan banyak teman baru dengan rasa lama, sekaligus jadi tempat belajar yang seru seperti yang saya sebutkan diatas.
Terima kasih buat semua teman-teman, saudara dan kerabat yang udah nyempetin mampir kesini disela-sela waktu sibuknya, (buat yang belum mampir tapi udah niat juga makasih loh), teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mereview @imahbabaturan di socmed, dan teman-teman baik yang tak henti-hentinya mensupport kami dengan tulus! It means a lot for us! *terharu*
Seperti halnya mengurus bayi 6 bulan yang baru belajar duduk dan makan, tentunya masih banyak tenaga yang harus dikumpulkan untuk menghadapi kejutan-kejutan lain yang akan terjadi di depan. Doakan kami tidak jompo sebelum waktunya ya! Hahaha ..karena kami sadar, makin gede bayi, biasanya makin banyak maunya kan 😀 *minum pil sabar dan balur minyak gosok*
Sekali lagi terima kasih banyak buat semuanya dari kami! Jangan bosan untuk mampir kesini ya..

*Take a bow

2 thoughts on “Warung Kopi Imah Babaturan. Part dua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s